Advertisement
Suasana mencekam menyelimuti Kabupaten Aceh Tenggara pada Kamis malam (28/3/2019). Saat warga bersiap untuk beristirahat, suara gemuruh air bah tiba-tiba memecah keheningan malam. Banjir bandang dahsyat menerjang pemukiman, memaksa ribuan jiwa berlarian menyelamatkan diri di tengah kegelapan dan guyuran hujan lebat.
Kronologi Malam Mencekam
Bencana bermula ketika hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Kabupaten Aceh Tenggara sejak Kamis sore. Curah hujan yang ekstrem membuat debit air di hulu sungai meningkat drastis. Tepat pukul 21.00 WIB, Sungai Lawe Kinga tidak lagi mampu membendung volume air yang membawa material kayu dan lumpur.
"Air meluap begitu cepat akibat intensitas hujan tinggi dari sore hingga malam hari. Puncaknya pukul 21.00 WIB, tanggul jebol dan air menggenangi pemukiman warga," ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Ahmad Dadek, dalam keterangannya pada Jumat malam (29/3/2019).
Skala Kerusakan yang Meluas
Berdasarkan data terbaru yang dihimpun, bencana ini menghantam 5 kecamatan sekaligus, yakni:
Kecamatan Semadam
Kecamatan Lawe Sumur
Kecamatan Bambel
Kecamatan Lawe Bulan
Kecamatan Bukit Tusam
Dampak yang ditimbulkan sangat masif. Sedikitnya 509 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 1.539 jiwa terdampak langsung. Tak hanya merendam perabotan, kekuatan air bah juga menghancurkan infrastruktur tempat tinggal warga. Tercatat 4 rumah mengalami rusak berat, 2 rumah rusak sedang, dan 2 rumah rusak ringan, sementara 398 unit rumah lainnya terendam lumpur pekat.
Upaya Evakuasi dan Pembersihan
Hingga Jumat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara terus bekerja ekstra keras. Alat berat telah dikerahkan ke lokasi-lokasi terparah, seperti Desa Kampung Baru di Kecamatan Semadam dan Desa Kuta Lesung di Kecamatan Lawe Sumur, untuk menyingkirkan material kayu besar dan tumpukan lumpur yang menutup akses jalan.
Petugas di lapangan masih terus melakukan pendataan valid terkait jumlah pengungsi. Banyak warga yang kini bertahan di posko darurat atau menumpang di rumah kerabat yang lebih aman, menanti bantuan logistik berupa makanan, selimut, dan air bersih.
Menagih Janji Pelestarian Alam
Banjir bandang di Aceh Tenggara bukanlah fenomena baru, melainkan luka lama yang terus terbuka. Para ahli lingkungan dan pihak terkait menyoroti bahwa bencana ini adalah "alarm" keras dari alam.
Laju deforestasi yang tidak terkendali di kawasan hulu ditengarai menjadi penyebab utama mengapa kabupaten ini menjadi "langganan" banjir bandang. Praktik illegal logging (penebangan liar), alih fungsi hutan menjadi perkebunan cokelat, hingga penanaman jagung di lereng perbukitan yang curam membuat tanah kehilangan daya ikat air. Tanpa akar pohon yang kuat, air hujan langsung meluncur ke bawah membawa material tanah dan batu, menciptakan banjir bandang yang mematikan.
Kini, masyarakat Aceh Tenggara hanya bisa pasrah menatap puing-puing rumah mereka, sambil berharap ada langkah nyata dari pemerintah untuk menghentikan perusakan hutan agar bencana serupa tidak kembali menghantui mereka di masa depan.

